Apakah Bekam Membatalkan Wudhu ?

Apakah Bekam Membatalkan Wudhu ?

bekam membatalkan wudhuApakah Bekam Membatalkan Wudhu ? – Pertanyaan yang sering terlontar dari orang yang dibekam maupun terapis yang membekam, suatu pertanyaan atas kehati-hatian dan keragu-raguan. Disini akan sedikit mengulas beberapa keterangan yang membuat ada dua pemahaman tentang hal ini, pertama yang menyebutkan bahwa seseorang yang berbekam maka batal-lah wudhunya, kedua yang menyebutkan bahwa berbekam tidaklah membatalkan seseorang dari wudhunya.

Dari awal mulanya penjelasan ini tentunya dari manakah dasar bahwa bekam dapat membatalkan wudhu, point yang paling utama adalah dikeluarkan darah dari proses bekam tersebut, darah menjadi sorotan utama karena dari sisi inilah ada dua pendapat tentang hal ini.

Keputusan yang pertama bahwa bekam dapat membatalkan wudhu adalah dari Madzhab al-Hanafiyyah, madzhab ini berpendapat bahwa bekam sebagai pembatal wudhu, Dari As-Sarkhasi berkata “Menurut kami, seseorang yang melakukan bekam, maka wajib baginya berwudhu dan mencuci bagian tubuh yang dibekamnya. Karena Wudhu itu wajib dengan keluarnya najis (darah bekam menurut madzhab ini najis). Bila dia berwudhu namun tidak mencuci bagian tubuh yang dibekam, maka bila bagian itu lebih besar dari ukuran dirham, ia tidak boleh mengejakan sholat. Namun bila kurang dari satu dirham boleh baginya untuk melaksanakan sholat.”

Berbeda dengan keputusan pertama Madzhab Al-Malikiyyah dan Asy-Syafi’iyyah berpendapat bahwa dengan bekam atau sengaja mengeluarkan darah pada tubuh dikulit manapun atau dikeluarkannya segumpal darah dengan cara dihisap tidaklah membatalkan wudhu orang tersebut. Az-Zarqani berkata “Berbekam tidaklah membatalkan wudhu, baikbagi orang yang membekam maupun yang dibekam, demikian pula dengan sengaa mengeluarkan dara dengan merobek kulit atau urat”.

Manakah yang kuat dari pendapat madzhab-madzhab tersebut diatas ?

Apabila merujuk kepada Kitab Al-Umm disebutkan pada kitab tersebut “Tidak wajib berwudhu karena muntah, mimisan dan berbekam”. (al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 17/14). Karena tidak ada keterangan atau dalil yang bisa dijadikan sebagai hujjah bahwa bekam membatalkan wudhu.

أَنَّ النَّبِيَّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَصَلَّى ولَمْ يَتَوَضَّأ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan shalat setelahnya tanpa berwudhu.” (HR. Ad-Daraquthni, 1/157 dan Al-Baihaqi, 1/141)

Hadits yang menyatakan dukungan atau penguatan bahwa berbekam tidak membatalkan wudhu pada sanadnya  ada pembicaraan terhadap salah satu perawinya yaitu Shalih Ibnu Muqatil, Al-Imam Ad-Daruquthni Rahimahullah mengetakan tentang Shalih Ibnu Muqatil “Bukan seorang yang kuat”, juga hadits ini dishoifkan oleh para imam seperti Al-Baihaqi, An-Nawawi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar (Al-Majmu 2/63, At-Talkhisul Habir 1/171), sehingga kembali kepada hukumasal atau bara’ah ashliyah.

Demikian semoga menjadi ibroh,  pendapat manakah yang menurut anda kuat…

Wallohu’alam.

Dari beberapa sumber.

Inline
Inline