Hukum bekam saat puasa ramadhan

Hukum bekam saat puasa ramadhan

Apa hukum bekam saat puasa ramadhan? pertanyaan yang sering muncul dari berbagai kalangan masyarakat kepada para terapis praktisi thibbun nabawi. Untuk hal yang satu ini memang ada 2 pendapat, pendapat pertama hukum bekam saat puasa itu bahwa bekam membatalkan puasa, dan pendapat lainnya hukum bekam saat puasa asalah bekam tidak membatalkan puasa orang yang dibekam dan juga yang membekam. Kedua kesimpulan pendapat ini memiliki dasar hukum yang jelas namun kebanyakan dari para ulama setuju dengan Tidak membatalkan puasa.

Hukum Bekam Saat Puasa

Keterangan tentang hukum bekam saat puasa adalah sebagai berikut:

1. Dari seseorang, dia bercerita, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لاَيُفْطِرُ مَنْ قَاءَ أَوْ مَنِ احْتَلًمَ وَلاَ مَنِ احْتَجَمَ

"Tidak batal puasa orang yang muntah atau orang yang bermimpi (basah) dan tidak juga orang yang berbekam".

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2376), Ibnu Khuzaimah (no. 1973 dan 1975). Dan sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat kitab Shahiihul Jaami (no. 7619). Dan Takhriij Al-Misykaat (2015)

2. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia bercerita, awal dimakruhkannya bekam bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja'far bin Abi Thalib berbekam sedang dia dalam keadaan berpuasa, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berpapasan dengannya, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Kedua orang ini telah batal puasanya". Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringan berbekam bagi orang yang berpuasa. Sementara Anas sendiri pun pernah berbekam ketika dia dalam keadaan berpuasa.

Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni (II/182), Al-Baihaqi (no. 8086), Ad-Daraquthni mengatakan : "Para rawinya secara keseluruhan tsiqah dan saya tidak mengetahui adanya cacat baginya". Di dalam kitab Fathul Baari, Ibnu Hajar mengatakan : "Perawinya secara keseluruhan merupakan perawi-perawi Imam Al-Bukhari".

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan :
Ucapannya : "Bab Ayyatu Saa'atin Yahtajim (bab kapan waktu untuk berhijamah)". Dalam riwayat Al-Kasymihani. Yang dimaksud dengan sa'ah dalam terjemahan adalah waktu yang tidak terikat (umum), bukan waktu yang khusus dan diketahui setiap waktu.

Ucapannya : "Abu Musa pernah berbekam pada malam hari" telah dikemukakan di dalam kitab Ash-Shiyaam (puasa). Di dalamnya disebutkan bahwa penolakannya untuk berbekam pada siang hari karena puasa, sehingga puasanya tidak rusak.

Hal itu pula yang menjadi pendapat Imam Malik. Di mana dia memakruhkan bekam bagi orang yang berpuasa sehingga puasanya tidak rusak. Alasannya juga bukan karena bekam akan membuat batalnya puasa seseorang

Pada pembahasan sebelumnya dalam hadits :

أَفْطَرَ الْحَا جِمُ وَالْمَحْجُوْمُ

"Telah batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam".

Jumhur ulama memberikan jawaban atas hadits tersebut dan makna yang terkandung didalamnya, bahwa hal itu telah mansukh (dihapus) dengan dalil-dalil yang mereka jadikan hujjah, yang secara jelas menyatakan adanya nasakh (penghapusan), dan menafikan beberapa jalan Syaddad bin Aus, bahwa hal itu berlaku pada masa pembebasan kota Makkah tahun kedelapan.

Sementara Ibnu Abbas menemani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berihram pada haji Wada tahun kesepuluh.

Dan telah diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari Ibnu Abbas : "Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbekam sedang beliau tengah berihram dan berpuasa"

Silahkan anda baca juga Hukum Bekam Dalam Islam.

Wallohualam.

 
Inline
Inline