Siapakah yang tidak Boleh dibekam?

Siapakah yang tidak Boleh dibekam?

orang yang tidak boleh dibekamSiapakah yang tidak Boleh dibekam? – Pengobatan Terapi Bekam pada umumnya sangatlah aman bagi siapa saja yang melakukannya serta untuk melakukan pembekaman sangatlah mudah mempelajarinya, namun pembekam harus membekali diri dengan pengetahuan bekam yang cukup terstandar dan mengetahui beberapa pantangan-pantangan juga kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan oleh pembekam pemula atau baru menjadi terapis (belum ahli).

Disini sedikit dipaparkan pantangan atau hal-hal yang perlu dihindari ketika akan melakukan pembekaman, agar pembekaman yang dilakukan aman dan betul-betul mendapatkan manfaatnya. Hal-hal yang harus dihindari tersebut adalah :

  • Hindarilah¬† membekam pasien yang dilihat secara fisiknya sangat lemah, pasien yang sedang mengalami kelelahan berat dan pasien yang memiliki tekanan darah < 80mmHg. Pembekaman pada pasien yang disebutkan diatas bisa menyebabkan resiko pasien syok bahkan pingsan. Juga sebaiknya menghindari untuk membekam pasien yang sudah jompo dan lemah fisiknya serta anak-anak yang tubuhnya lemah/ di bawah 3 tahun. (kecuali oleh orang yang ahli bekam yang proffesional dan berpengalaman serta faham keilmuan bekam standararisasi)
  • Hindari membekam pasien wanita hamil pada usia kehamilan tri semester awal (3 bulan pertama). Harap diingat lebih baik tidak membekam wanita yang sedang haidh dan nifas karena pada kondisi tersebut wanita sedang banyak mengeluarkan darah alami, sehingga dikhawatirkan akan melemahkan kondisi fisiknya. Serta Jangan melakukan hijamah tepat diatas perut wanita hamil.
  • Tidak dianjurkan membekam pasien yang dalam kondisi perutnya¬† kekenyangan, kehausan, kelaparan, kelelahan, setelah beraktifitas berat, tubuh lemah dan tubuh demam (kedinginan).
    Jangan melakukan bekam langsung setelah makan besar (Pembekaman dapat dilakukan minimal dua jam setelah makan). Setelah melakukan bekam pun jangan langsung makan, melainkan hanya minum yang manis-manis semisal madu, sari kurma atau selainnya, untuk menormalkan kembali metabolisme tubuh dan energi instan yang terserap tubuh.
  • Jangan melakukan Bekam Sesaat setelah mandi, terutama setelah mandi dengan air dingin. Tidak dianjurkan langsung mandi setelah dibekam, melainkan setelah 2 jam. Dan setelah bekam dianjurkan untuk mandi dengan air hangat.
  • Hindari melakukan Bekam basah pada pasien leukimia (kanker darah), hepatitis yang parah, TBC aktif, HIV/ODA, hemofilia, malignant anemia, trombositopenia, penderita kelainan klep jantung/ yang menggunakan alat pacu jantung serta penyakit lainnya yang parah kecuali oleh ahli hijamah yang berpengalaman dan dengan pengawasan dokter.
  • Tidak dianjurkan melakukan bekam basah pada penderita diabetes dengan kadar gula darah sewaktu (GDS) diatas 250mg/dL kecuali oleh penghijamah yang ahli dan berpengalaman.
    Jangan melakukan bekam basah pasien yang baru memberikan donor darah atau orang yang baru kecelakaan sehingga darahnya berkurang.
  • Hindari membekam pasien yang menderita penyakit kulit merata atau menderita alergi kulit yang parah seperti ulserasi (luka koreng basah/bernanah) dan edema.
  • Hindari membekam pasien yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah(seperti heparin). Pembekaman baiknya dilakukan setelah 48jam sebelummnya pasien telah menghentikan terlebih dahulu obat-obat tersebut.
  • Jangan membekam langsung pada daerah yang luka, urat sendi yang robek, patah tulang, tumor serta varises. Membekam pada kasus varises dilakukan beberapa cm disekitar pembuluh darah yang rusak.
    Jangan membekam daerah perut terlalu keras. Bagian perut sangat lemah karena lapisan ototnya sangat tipis.
  • Hindari melakukan hijamah pada bagian tubuh berikut : Lubang alamiah tubuhseperti mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus dan puting susu), daerah sistem nodus limfa/ kelenjar getah bening (bawah ketiak, selangkangan, leher bagian samping, dll), tepat diatas pembuluh darah yang besar.

Beberapa poin diatas sebenarnya masih bisa dilakukan oleh seorang ahli hijamah yang professional, berpengalaman serta atas pengawasan dokter yang berkompeten.

Close